Materi Bahasa Indonesia
Bab 1 SEJARAH BAHASA INDONESIA
Pengertian sejarah Bahasa Indonesia adalah kejadian masa lampau melalui proses perubahan yang bersifat dinamis kearah kesempurnaan.
Adapun proses pembentukan Bahasa Indonesia yaitu sekitar abad 25 lalu di daratan benua Asia. kira-kira Taiwan, terdapat sekelompok bangsa yang berbahasa Formosa. Mereka berimigrasi ke selatan setelah itu membuat budaya dan bahasa masing-masing. Bahasa Formosa berkembang menjadi dua, yaitu Austro-Asia dan Austronesia.
Latar belakang pembentukan Bahasa Indonesia
1. Bahasa indonesia merupakan lingua franca, yakni bahasa perhubungan antaretnis di Indonesia.
2. Memiliki daerah penyebaran yang sangat luas
3. Bahasa Melayu masih berkerabat dengan bahasa-bahasa nusantara lain sehingga tidak dianggap sebagai bahasa asing lagi.
4. Bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana sehingga relatif mudah dipelajari.
5. Faktor psikologis, yaitu adanya kerelaan dan keinsafan dari penutur bahasa Jawa dan Sunda, serta penutur bahasa-bahasa lain, untuk menerima bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.
6. Bahasa Melayu memiliki kesangguupan untuk dapat di pakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
BAB 2 BAHASA DAERAH DI INDONESIA
Ikrar ketiga sumpah pemuda yang dibacakan pada 28 Oktober 1928 di Jakarta yang berbunyi ''Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia''.
Di Indonesia terdapat berbagai macam Bahasa daerah yang di sebabkan oleh luasnya negara Indonesia, sehingga Indonesia memiliki banyak keanekaragamaan salah satunya bahasa Sunda. Kata ''Sunda'' berasal dari bahasa sanskerta yang berarti ''Cahaya'' atau ''Air''. Bahasa Sunda ini berasal dari wilayah sebelah barat pulau Jawa.
-3 Periodisasi Bahasa Sunda antara lain;
1. Bahasa Sunda kuno
2. Bahasa Sunda klasik
3. Bahasa Sunda modern
-Ciri khas Bahasa Sunda
1. Logat yang khas
2. Pelafalan huruf ''F'' yang dibaca menjadi ''P''
3, Sering menambahkan kata ''Teh''
4. Pemilihan nama yang unik
5. Humoris
6. Ramah dan murah senyum
-3 Unduk usuk tingkatan Basa Sunda
1. Basa Sunda kasar
2. Basa Sunda lemes
3. Basa Sunda loma.
BAB 3 UNDANG UNDANG ATAU ATURAN BAHASA INDONESIA DAN DAERAH
-Undang-undang yang mengatur bahasa di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Selain itu, bahasa Indonesia juga diatur dalam Pasal 36 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa negara.
-Selain bahasa Indonesia, bahasa daerah juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009. Bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan secara turun-temurun oleh warga negara Indonesia di daerah-daerah.
Dasar Hukum yang mengatur Penggunaan Berbahasa
PASAL 29 AYAT 1: Menyatakan bahwa Indonesia adalah bahasa negara dan wajib digunakan dalam komunikasi resmi di wilayah indonesia.
PASAL 32 AYAT 2: Yang menyatakan bahwa negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.
PASAL 36: Menjelaskan bahwa bahasa negara Indonesia adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia bersumber dari bahasa persatuan yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
-Prinsip Dasar Penggunaan Bahasa
A. Bahasa Indonesia: Sebagai bahasa resmi negara, digunakan dalam urusan pemerintahan, pendidikan, media massa, dan dokumen resmi.
B. Bahasa Daerah: Diakui sebagai bagian dari identitas budaya lokal dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat daerah tersebut, meskipun bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pengantar utama di ruang publik dan lembaga-lembaga resmi.Dengan demikian, Indonesia menganut prinsip bilingualisme di mana bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi dan penghubung antar daerah, sementara bahasa daerah tetap dilestarikan dan digunakan dalam konteks sosial dan budaya lokal.
BAB 4 PERKEMBANGAN EJAAN
1. Ejaan Van Ophuisjen (1901-1947)
Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia diawali dengan ditetapkannya Ejaan Van Ophuijsen pada 1901. Ejaan ini menggunakan huruf Latin dan sistem Ejaan BahasaBelanda yang diciptakan oleh Charles A. Van Ophuijsen. ejaan Van Ophuijsen berlaku sampai dengan tahun 1947.
2.Ejaan Rebublik/Ejaan Soewandi (1947-1956)
Ejaan Republik berlaku sejak tanggal 17 Maret 1947. Pemerintah berkeinginan untuk menyempurnakan Ejaan van Ophuijsen. Adapun hal tersebut dibicarakan dalam Kongres Bahasa Indonesia I, pada tahun 1938 di Solo. Kongres Bahasa Indonesia I menghasilkan ketentuan Ejaan yang baru disebut Ejaan Republik/Ejaan Soewandi.
3. Ejaan Pembaharuaan (1956-1961)
Kongres Bahasa Indonesia II di gelar pada tahun 1954 di Medan. Kongres ini digagas oleh Menteri mohammad Yamin. Dalam Kongres Bahasa Indonesia II ini, peserta Kongres membicarakan tentang perubahan sistem ejaan untuk menyempurnakan ejaan soewandi.
4. Ejaan Melindo (1961-1967)
Dikenal pada akhir 1959 dalam perjanjian persahabatan Indonesia dan Malaysia. Pembaruan ini dilakukan karena adanya beberapa kosakata yang menyulitkan penulisannya akan tetapi rencana peresmian ejaan bersama tersebut gagal karena adanya konfrontasi Indonesia dengan Malaysia pada 1962.
5. Ejaan baru atau lembaga bahasa dan kesastraan (LBK) (1967-1972)
Pada 1967, lembaga bahasa dan kesusastraan yang sekarang bernama badan pengembangan dan pembinaan bahasa mengeluarkan ejaan baru. Pembaharuan ejaan ini merupakan kelanjutan dari ejaan melindo yang gagal diresmikan pada saat itu.
6. Ejaan Bahasa Indonesia yang di sempurnakan (EYD) (1972-2015)
Ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan berlaku sejak 23 Mei 1972 hingga 2015 pada masa menteri Mashuri Saleh. Ejaan ini menggantikan Ejaan soewandi yang berlaku sebelumnya. Ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan ini mengalami dua kali perbaikan yaitu pada 1987 dan 2009.
7. Ejaan Bahasa Indonesia (2015-Sekarang)
Pemerintah terus mengupayakan pembenahan terhadap Ejaan Bahasa Indonesia melalui badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia. Pasalnya, pemerintah meyakini bahwa ejaan merupakan salah satu aspek penting dalam pemakaian bahasa Indonesia yang benar. Ejaan Bahasa Indonesia ini diresmikan pada 2015 di masa pemerintahan Joko Widodo dan Anies Baswedan sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia.
BAB 5 ANGKATAN SASTRAWAN
1. Angkatan Pujangga Lama
Pujangga Lama adalah angkatan sastra yang berkembang sebelum tahun 1920. Karya dari angkatan Pujangga Lama ditulis dalam bahasa Melayu atau bahasa lain dari bangsa yang datang dan memberi pengaruh di Nusantara, seperti Arab, Tamil atau Sansekerta.
Karya sastra pujangga lama:
1. Hikayat
- Hikayat Abdullah
- Hikayat Kalia dan Damina
- Hikayat Aceh - Hikayat masyidullah
- Hikayat Amir Hamzah - Hikayat Pandawa jaya
- Hikayat Andaken Panurat - Hikayat Panda Tonderan
- Hikayat Bayan Budiman - Hikayat Putri Djohar Munikam
- Hikayat Hang Tuah - Hikayat Sri Rama
- Hikayat Iskandar Zulkarnaen - Hikayat Jendera Hasan
- Hikayat Kadirun - Tasibul Hikaya
2. Syair
- Syair Bidasari
- Syair Ken Tambuhan
- Syair Raja Mambang Jauhari
- Syair Raja Siam
3. Kitab Agama
- Syarab Al Asyidiqin (minuman para pecinta) oleh Hamzah Panzuri
- Asrar Al-arifin (rahasia-rahasia gnostik) oleh Hamzah Panzuri
- Nur ad-duqa’iq (cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsudin Pasai.
- Bustan as-salatin (taman raja-raja) oleh Nuruddin Ar-Raniri.
2. Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Balai Pustaka adalah angkatan yang berkembang di periode 1920-an. Balai Pustaka awalnya adalah kantor penyedia bacaan rakyat yang dibentuk Belanda. Karya yang dihasilkan dari angkatan Balai Pustaka berisi tentang situasi sosial yang ada di masyarakat, seperti perjodohan. Karya terkenal dari angkatan ini di antaranya "Siti Nurbaya" dan "Azab dan Sengsara".
3. Angkatan Pujangga Baru
Angkatan Pujangga Baru lahir dengan terbitnya majalah Poedjangga Baroe pada tahun 1933. Karya sastra pada angkatan pujangga baru mulai menyinggung mengenai masalah nasionalisme dan Kepada am berbangsa. Tak luput pula tema emansipasi dan pilihan individu. Karya terkenal dari angkatan Pujangga Baru antara lain "Belenggu", "Layar Terkembang" dan "Manusia Baru".
4. Angkatan 45
Angkatan 45 adalah angkatan yang terkenal dari periode sastra di Indonesia. Karya dari angkatan 45 ramai akan suara perjuangan. Karya sastra angkatan 45 lantang menyampaikan kritik akan ketidakadilan yang dialami rakyat, dari persoalan sosial dan politik. Dalam situs Ditjen SMP Kemendikbudristek, angkatan 45 bisa dikatakan sebagai pejuang yang berperang melalui tulisan mereka. Tokoh terkenal dari angkatan ini di antaranya Chairil Anwar, Usmar Ismail, Asrul Sani, dan Pramoedya Ananta Toer.
5. Angkatan 66
Angkatan 66 lahir pada saat situasi politik di Indonesia sedang bergejolak. Angkatan ini muncul berdampingan dengan maraknya penyalahgunaan kekuasaan pada periode 1960-1970. Karya pada angkatan 66 banyak membahas kritik dari situasi politik dan kehidupan sosial masyarakat. Tokoh terkenal dari angkatan 66 ini di antaranya Taufik Ismail, Putu Wijaya dan W.S. Rendra
.6. Angkatan 80
Angkatan sastra 80 berkembang pada masa pemerintahan Orde Baru pada 1980. Karya sastra pada masa ini mendapat pengawasan ketat dari pemerintah untuk menjaga situasi kondusif di masyarakat. Berbeda dengan angkatan 45 dan 66, karya sastra angkatan 80 membahas romansa dan kisah kehidupan sehari-hari. Pada angkatan 80 juga, karya sastra banyak menghadirkan tokoh utama perempuan. Tokoh terkenal dari angkatan sastra 80 di antaranya Mira Widjaja, Nh. Dini, dan Marga T.
7. Angkatan Reformasi
Angkatan sastra reformasi adalah angkatan sastra termuda dan berkembang setelah reformasi tahun1998. Karya sastra dari angkatan reformasi sudah menggunakan latar kehidupan di masa modern dan ditulis dengan bahasa sehari-hari. Angkatan Reformasi banyak memunculkan sastrawan perempuan, sehingga mengimbangi sastrawan laki-laki. Tokoh terkenal dari angkatan sastra reformasi di antaranya Dewi Lestari dan Andrea Hirata.
BAB 6 PUISI
Puisi adalah karya sastra yang menggunakan bahasa secara kreatifuntuk menyampaikan gagasan, perasaan, atau pengalaman.dan puisi juga bisa diartikan sebagai ungkapan pikiran dan perasaanpenyair yang dituangkan dengan menggunakan bahasa yang indahserta mengandung makna mendalam.
a.Ciri-Ciri
- Bahasa yang digunakan terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
- Ungkapan-ungkapan ditulis secara imajinatif
- Menggunakan bahasa konotatif
-Menggunakan diksi yang tepat dengan memperhatikan irama atau bunyi
- Dapat dibentuk oleh tipografi
b.Jenis-jenis
•Puisi naratif : mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Puisi ini terbagi ke dalam beberapa macam, yaitu balada, epic, dan romansa.
•Puisi lirik: berisi ungkapan perasaan yang tersusun dalam larik-larik atau baris.Puisi lirik terdiri dari tiga jenis, yaitu elegi, ode, dan serenada.
•Puisi deskriptif : adalah puisi yang disampaikan oleh penulis untuk memberi kesan terhadap keadaan, peristiwa, benda, atau suasana yang dipandang menarik kepada pembaca.
•Mantra : ucapan (pada zaman itu) dianggap memiliki kekuatan gaib.
•Pantun : puisi bersajak a-b-a-b, tiap baris terdiri dari 9-12 suku kata, dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris berikutnya disebut isi.
•Karmina : jenis puisi lama selanjutnya adalah karmina, yaitu pantun yang isi baris dan katanya pendek.
•Seloka : jenis puisi lama berupa pantun berkait.
•Gurindam : puisi yang terdiri dari dua baris dan bersajak a-a-a-a.
•Talibun : pantun genap yang tiap baitnya terdiri dari enam hingga 10 baris.
c. Struktur
1. Struktur Batin Struktur batin adalah unsur pembangun puisi yang tidak tampak langsung dalam penulisan kata-katanya. Struktur batin puisi meliputi tema, amanat, dan sikap penyair.
2. Struktur Fisik Struktur fisik adalah unsur pembangun puisi yang bersifat fisik atau tampak dalam bentuk susunan kata-katanya. Struktur fisik puisi meliputi majas, rima, konotasi, kata berlambang,dan pengimajian.
BAB 7 CERPEN
Cerita adalah tuturan yang menjelaskan terjadinya suatu peristiwa, kejadian atau perbuatan, pengalaman atau penderitaan. Cerita dibedakan menjadi cerita fiksi dan non fiksi diantaranya "cerita rakyat,cerpen, cerita jenaka,fabel,legenda, dan mite.
1. Cerita Rakyat Yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Cerita rakyat mengandung pesan moral dan ajaran Budi pekerti
2. Cerpen Cerita yang berfokus pada satu konflik permasalahan yang dialami oleh tokoh . Terdiri dari tidak lebih dari 10.000 kata.
3. Cerita Jenaka Cerita lucu yang menghibur pembaca atau pendengar.
4. Cerita Fabel tentang kehidupan dunia bintang yang memiliki nilai moral dan Budi pekerti.
5. Cerita Legenda yaitu cerita prosa rakyat yang dianggap pernah benar-benar terjadi oleh yang mempunyai cerita.
6. Cerita Mite yaitu cerita prosa rakyat yang tokohnya mahluk setengah dewa atau para dewa.
PANTUN
1.Buah salak enak rasanya
Serat tanda pohon berduri
Orang galak seram rupanya
Tampang saja bukan dari hati
2.Minum kopi disaat hujan
Memang nikmat sekali rasanya
Anak baik anak teladan
Jadi kebanggan keluarga
3.Pergi kerumah bibi Rara
Bibi Rara sedang merenung
Betapa hati riang gembira
Jalan-jalan ke puncak gunung
PUISI
Oleh: Maudi Putri Kusuma
Kau tahu...
Rindu tidak pernah pergi
Hanya sembunyi dibalik
Pagi dan senja...
Karena ketika malam
Ia hadir kembali...
CERITA BERSAMBUNG (KENANGAN TERAKHIR)
Oleh:Maudi Putri Kusuma
Meski kini menjalani kehidupan baru di kampus, Layla tetap menyimpan kenangan indah bersama teman-teman lamanya. Setiap kali merasa kesepian atau menghadapi tantangan, ingatannya akan tawa dan momen hangat saat camping selalu menguatkannya. Ia sadar bahwa persahabatan mereka adalah bekal yang tak ternilai, memberi Layla keyakinan untuk melangkah dengan mantap.
Hari-hari pun berlalu, dan meskipun jarak memisahkan, Layla dan teman-temannya tetap saling mendukung melalui pesan dan pertemuan singkat di waktu libur. Mereka tak pernah benar-benar berpisah, karena persahabatan sejati akan selalu ada, menjadi kekuatan yang diam-diam memberi Layla semangat dalam perjalanan hidupnya.
CANDI CANGKUANG
1.Latar belakang
Desa Cangkuang di Kabupaten Garut merupakan tujuan wisata yang menarik, dengan berbagaiatraksi sepertiSitu (danau) Cangkuang, Candi Hindu Cangkuang, Museum, Makam Arief Muhammad, dan Kampung Adat Pulo. Desaini dinamakan sesuaipohon Cangkuang(Pandanus furcatus) yangtumbuh di sekitar makam Arief Muhammad. Candi Cangkuang,peninggalan Hindu, terletak dipulau kecil di tengah danau dan hanyabisa dicapai dengan rakit. Kampung Pulo,bagian dari desaini, dikenal sebagaikampungadat dengan tradisi yang dijagaketat. Masyarakatnya mengklaim sebagaiketurunan Arief Muhammad, seorangpenyebar Islam dari Kerajaan Mataram yangjuga meninggalkan naskah-naskah bersejarah yang disimpan di museum setempat. Kompleks rumah adat di Kampung Pulotidakpernah berubah posisiatau jumlahnyasejakzaman dahulu.
2.Sejarah
Candi Cangkuangpertamakali ditemukan padatahun 1966 oleh Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita,berdasarkan laporan tahun 1893 yang menyebutadanyaarcaSiwa dan makam kuno di Kampung Pulo,Leles. Penelitian awal menemukan reruntuhan candi,arca Siwa, makam Arief Muhammad, serpihan pisau, dan batu-batu besar yang diduga peninggalan zaman megalitikum. Temuan ini mengungkapbahwa Candi Cangkuang merupakan peninggalan agama Hindu dariabad ke-8 M, sezaman dengan candi-candi di Batujaya dan Cibuaya. Pemugaran Candi Cangkuang dimulaipadatahun 1974 dan selesaipada1976, mencakup rekonstruksibagian kerangkacandi,atap,arcaSiwa, dan pembangunan joglo museum untuk menyimpan artefaksejarah. Kendala utama dalam rekonstruksiadalah hanya 40% batu aslicandi yang ditemukan, sehinggasisanya dibuat daribahan modern seperti semen dan pasir. Meski demikian,pemugaran berhasil mengembalikan sebagian besar bentuk asli candi. Candi ini menjadi bukti percampuran budaya dan agama, dengan adanya makam Islam Arief Muhammad di dekatcandi Hindu.Selain berperan sebagai situs sejarah, Candi Cangkuang menjadi simbolpenting dalam mengisikekosongan sejarah antara era Purnawarman dan Pajajaran. Kini,candi ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga destinasi wisataedukatif di Kabupaten Garut. Candi Cangkuang yangsekarang merupakan hasilpemugaran dan diresmikan pada tahun 1978, dengan bentukbangunan persegiempatberukuran 4,7x 4,7 m dan tinggi total sekitar 7,82 m. Di dalamnyaterdapat ruangan kecil dan cekungan di dasarnya. Candi ini hanya 40% asli, sisanya hasil rekonstruksi. Diantarareruntuhan candi ditemukan arcaSiwa yangsudah rusak,bersama kepala nandi yang menguatkan identitas candi sebagaipeninggalan Hindu. Arcainiberukuran kecil dengan detail tubuh yangsebagian besar hilang. Candi Cangkuangterletaksekitar3 m dari makam Arief Muhammad di kampung Pulo.
3.Sejarah makan Arief Muhammad dan keturunannya Arief Muhammad,panglimaperang Mataram dieraSultan Agung, menetap di Pulau Panjangsetelah gagal menyerang VOC padaabad ke-17. Ia menyebarkan Islam secarabertahap, namun tetap mempertahankan beberapatradisi Hindu, sepertipenggunaan sesaji dan kemenyan. Kampung Pulo, tempat tinggal keturunannya, memiliki tujuh bangunan pokok:enam rumah melambangkan anakperempuan dan satu musala untukanaklaki-lakinya yang meninggal saat akan disunat. Tradisi menetapkan hanyaenam kepalakeluarga yangboleh tinggal, dan anakperempuan dapatkembali jikaadakekosongan,karena merekalah penerusgarisketurunan. Hinggakini,kampungini dihunigenerasi ke-8 hinggake-10, dengan aturan adat yangtetap dijaga, melestarikan warisan Arief Muhammad.
4.Kampung pulo
Kampung Pulo,kampung adat di Kecamatan Leles, Garut, memiliki duaikon budayapenting: Candi Cangkuangpeninggalan Hindu dan makam keramat Arief Muhammad,penyebar Islam di Jawa Barat. Keduaikon iniberdampingan, melambangkan harmoniantaraagama Hindu dan Islam. Arief Muhammad, bekaspanglimaperang Mataram, menetap di Kampung Pulosetelah gagal menyerang VOC dan menyebarkan Islam secarabertahaptanpa meninggalkan tradisi Hindu setempat. Kampungini memiliki tujuh bangunan pokok—enam rumah simbolanakperempuan dan satu musala untukanaklaki-laki—dan aturan adat yangketat untuk menjagakeaslian budaya. Hinggakini, Kampung Pulo dihunioleh keturunan Arief Muhammad yangtetap melestarikan tradisi tersebut. Candi Cangkuang, yangkonon sudah adasebelum kedatangan Arief Muhammad, merupakan peninggalan Hindu abad ke-8 dengan namaberasal dari tanaman cangkuang yangbanyaktumbuh di sekitar situ Cangkuang. Kampungini juga dikenal dengan tradisi pembuatan kertas daluang darikulitpohon yang digunakan untuk menulis naskah kuno, seperti Al-Qur'an dan khutbah buatan Arief Muhammad.Letaknya yang dikelilingi situ menjadikan Kampung Pulosebagai destinasibudaya dan sejarah yang unik dengan tradisi sinkretisme Hindu-Islam yang masih hidup hinggakini.
5.LARANGAN DAN PANTANGAN KAMPUNG PULO
a. Tidakboleh menabuh gongbesar
b. Tidak diperkenankan berteman binatang
besarberkakiempat
c. Tidakboleh datangke makam keramatpada
hari rabu
d. Tidakboleh menambah bangunan pokok
e. Tidakboleh menambah pokokkeluarga
f. Tidakboleh mencari matapencaharian
kdluar wilayah desa
6.Asal mula munculnya larangan di kampung pulo
Larangan-larangan di Kampung Puloberakar darikejadian tragis di masalalu, seperti larangan menabuh gongbesar yang muncul setelah anaklaki-laki satusatunya dari Arief Muhammad meninggal dalam badai saatpestasunatan yang diiringigongbesar.Larangan ziarah pada hari Rabu juga diwarisi dari tradisi Hindu, di mana hari itu dianggapsakral untukberibadah.Selain itu,penduduk dilarang memelihara hewan besarberkakiempat untuk mencegah kerusakan sawah,kebun, dan makam keramat, sekaligus menghindaripotensipenyembahan sepertiarca DewaSiwa yang menunggangi sapi.Larangan menambah atau mengurangibangunan rumah juga dijagaketat sebagai simbolketurunan Arief Muhammad, yaitu enam rumah dan satu musala, demi menjagakeaslian tradisi kampung adat ini.
7.Kesimpulan
Kampung Pulo, dengan keunikan adat dan larangan yang dijaga turun-temurun,bersama dengan Candi Cangkuang yang merupakan satu-satunyacandi Hindu di tanah Pasundan, menjadi dayatarik wisata utama di Kabupaten Garut. Potensibudaya dan sejarah ini dapat mendorongpengembangan produkkerajinan dan oleh-oleh khas Garut, seperti Chocodot, yang mengangkat Candi Cangkuang sebagai ikon lokal. Hal iniberpotensi memberikan dampakpositifbagi ekonomipariwisata dan memperkenalkan keunggulan daerah secara lebih luas.
SEJARAH SITU CIBURUY
Salah satu contoh peninggalan budaya di garut adalah situs Kabuyutan Ciburuy yang terletak di kaki Gunung Cikuray. Situs Kabuyutan Ciburuy berada di perbukitan dengan batas di sekitarnya: Desa Saderang (barat), Sindangsari (utara), Batuageung (timur), dan Cicayur (selatan). Situs ini dilewati oleh tiga sungai kecil: Sungai Ciburuy (barat), Sungai Cisaat (timur), dan Sungai Baranangsiang (utara). Nama kampung di lereng barat Gunung Cikuray dahulu disebut Srimanganti, namun kampung tersebut sudah ditinggalkan penduduknya. Menurut informasi dari asisten residen Garut, Cikuray juga dikenal sebagai Srimanganti yang merupakan bagian Desa Cigedug.
PENINGGALAN SITUS CIBURUY
Banggunan potoman yang berguna untuk bermusyawarah dan menerima tamu. Didalamnya, terdapat peti yang beraksara pegon dan benda-benda pusaka berupa sebatang rotan ± 40 cm dibungkus kain warna merah-putih, dua bilah golok panjang, beberapa buah keris, sebuah cambuk, rantai logam emas, alat kecantikan, bokor tembaga, dan gamelan.
KOLEKSI NASKAH LONTAR SUNDA KUNO
Kabuyutan Ciburuy pada masa lampau dapat dipastikan merupakan Skriptorium Sunda, yaitu salah satu tempat kegiatan kaum intelektual untuk belajar serta mengembangkan beragai bidang ilmu pengetahuan dalam bentuk tradisi tulis berupa bundelan naskah-naskah berbahan lontar dan nipah. Hal ini didukung dengan adanya tinggalan benda budaya yang masih tersimpan berupa bundelan naskah-naskah berbahan lontar dan nipah. Sebagaimana disinggung di muka bahwa ada sebagian benda budaya berupa pusaka dan lembaran naskah di Kabuyutan Ciburuy yang bernuansa Islam, yakni yang tersimpan dalam sebuah peti kayu di patamon
NASKAH KUNO SECARA KUANTITATIF
1.Dalam peti pertama berisi sebanyak 11 (sebelas) buah kropak triplek yang masing-masing terbungkus sarung kain putih.
2.Peti kedua berisi sebanyak 6 (enam) buah kropak kayu aslinya yang bercat warna merah jingga, 3 (tiga) buah kropak di antaranya berhias motif tanaman rambat.
3.Dalam peti ketiga berisi sebanyak 4 (empat) buah kropak berwarna merah jingga bermotif tanaman rambat, dan 4 (empat) buah bundel naskah dengan penjepit kayu, jadi berjumlah 8 (delapan) buah naskah yang semuanya berbahan lontar digores dengan pisau pangot beraksara Sunda.
KESIMPULAN
Berdasarkan kenyataan di lapangan, dapat dipastikn bahwa Kabuyutan Ciburuy bagi masyarakat Sunda merupakan sebuah tempat karamat atau kabuyutan itu adalah situs pusat aktivitas pendidikan yang dinamakan mandala, yakni sebuah lembaga pendidikan formal. pada masa sistem pemerintahan kerajaan di Sunda. Sebagai sebuah situs, dengan sendirinya tempat demikian perlu dilindungi seperti halnya dengan benda cagar budaya dan situs yang dirumuskan pada Pasal 1 ayat (2), UU No. 5/1992 yang menyatakan bahwa, ”Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya.”
PENGARUH SEJARAH DAN LEGENDA PANGERAN PAPAK TERHADAP TRADISI DAN BUDAYA DI CINUNUK
LATAR BELAKANG
Pangeran Papak adalah tokoh legendaris yang kisahnya hidup dalam tradisi lisan masyarakat Sunda, terutama di wilayah Garut, Jawa Barat. Ia sering dikaitkan dengan masa peralihan antara kejayaan Kerajaan Sunda dan pengaruh kekuatan luar, seperti Kesultanan Cirebon atau Mataram Islam. Nama “Papak” diyakini berasal dari ciri fisik atau karakteristiknya yang khas, seperti dahi yang rata, atau melambangkan sifatnya yang tegas dan bijaksana. Meskipun tidak banyak bukti sejarah tertulis mengenai dirinya, Pangeran Papak dianggap sebagai seorang bangsawan atau pemimpin lokal yang melindungi rakyatnya dari ancaman eksternal. Dalam legenda, Pangeran Papak dikenal sebagai sosok yang memiliki keberanian luar biasa dan kekuatan supranatural. Ia digambarkan sebagai pahlawan yang tak hanya berjuang melawan penjajah, tetapi juga menjaga harmoni antara manusia dan alam. Kisah-kisahnya sering dihiasi dengan nilai-nilai kearifan lokal, seperti keberanian, keadilan, dan spiritualitas. Beberapa cerita juga menyebutkan bahwa ia memiliki senjata sakti yang membantu mengalahkan musuh-musuhnya, memperkuat statusnya sebagai tokoh yang dihormati dan dilestarikan dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda. Makam Pangeran Papak, yang terletak di Desa Cinunuk, Wanaraja, menjadi simbol penting bagi sejarah dan spiritualitas masyarakat setempat. Makam ini dihormati sebagai tempat ziarah, di mana orang-orang berdoa dan memohon berkah. Ritual-ritual adat sering diadakan untuk mengenang jasa-jasanya, menjadikan makam ini sebagai pusat tradisi dan identitas budaya lokal. Legenda Pangeran Papak bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga cerminan nilai-nilai moral yang terus relevan hingga kini.
SEJARAH PANGERAN PAPAK
Pangeran Papak, atau Raden Wangsa Muhammad, adalah tokoh penyebar Islam di Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, pada abad ke-19. Beliau lahir dari keluarga bangsawan Balubur Limbangan yang memiliki garis keturunan Prabu Siliwangi dan Sunan Rumenggong. Julukan "Papak," yang berarti "rata" dalam bahasa Sunda, mencerminkan sifat egaliter dan bijaksana beliau. Sebagai pendakwah, Pangeran Papak menyebarkan Islam ke berbagai wilayah seperti Winduraja, Kawali, Karawang, hingga Tangerang. Beliau menolak gelar bangsawan dari Keraton Sunan Gunung Jati sebagai wujud kesederhanaannya. Dalam dakwahnya, beliau menekankan pentingnya shalat lima waktu dan membangun masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan. Masjid di Kampung Cinunuk Hilir, yang dibangunnya, tetap aktif hingga kini. Pangeran Papak juga dikenal atas perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan upayanya membangun kebiasaan religius masyarakat. Beliau wafat pada tahun 1899 dan dimakamkan di Cinunuk, yang kini menjadi tempat ziarah. Dekat makamnya terdapat Pancuran Tujuh, sumber mata air yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan.
LEGENDA PANGERAN PAPAK
Pangeran Papak adalah tokoh legendaris dari Jawa Barat yang dikenal melalui perpaduan fakta sejarah dan mitologi. Dalam cerita-cerita rakyat, ia digambarkan sebagai bangsawan Sunda yang bijaksana dan pemimpin yang berjuang untuk keadilan, melindungi rakyatnya dari penindasan. Legenda Pangeran Papak seringkali melibatkan unsur mistik, seperti kemampuannya berbicara dengan alam, menerima petunjuk dari leluhur, atau memperoleh bantuan dari makhluk gaib dalam perjuangannya. Ia dikenal sebagai pahlawan tangguh yang memimpin perlawanan melawan penjajah atau musuh dari luar, serta memiliki kekuatan bertarung yang luar biasa. Beberapa cerita mengaitkan Pangeran Papak dengan tempat-tempat sakral di Jawa Barat, seperti gunung dan situs bersejarah, yang dipercaya sebagai lokasi peristirahatan atau medan pertempurannya. Keberadaan situs-situs ini memperkuat statusnya sebagai tokoh yang dihormati dalam sejarah dan kepercayaan masyarakat Sunda.
KESIMPULAN
sejarah dan legenda Pangeran Papak di masyarakat Cinunuk, Garut, memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan identitas sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat setempat. Pangeran Papak dikenal sebagai tokoh yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah ini dan juga sebagai simbol keberanian dan kebijaksanaan dalam melawan penjajahan. Legenda tentang Pangeran Papak berkembang melalui tradisi lisan yang terus diwariskan oleh generasi ke generasi. Kisah ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga membentuk norma sosial dan budaya yang masih dijaga hingga kini. Pengaruh legenda Pangeran Papak terhadap tradisi dan budaya di Cinunuk terlihat dalam berbagai aspek, seperti tradisi ziarah ke makam beliau yang menjadi pusat kegiatan religi dan kebudayaan, serta dalam pembentukan nilai-nilai sosial seperti kesederhanaan, keadilan, dan gotong-royong. Selain itu, masyarakat Cinunuk juga melakukan upaya-upaya konkret untuk melestarikan kisah Pangeran Papak dan tradisi terkait, seperti melalui ziarah, pendidikan, dan pemeliharaan situsmakam sebagai warisan budaya.
MASJID LIO AL DJAMHARI, MASJID AGUNG, DAN MASJID AL-SYURO CIPARI.
LATAR BELAKANG
Masjid memiliki peran sentral dalam kehidupan umat Islam sebagai tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan budaya. Di Kabupaten Garut, keberadaan masjid tidak hanya mencerminkan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi saksi sejarah perkembangan Islam dan dinamika masyarakat lokal. Tiga masjid yang memiliki signifikansi historis dan sosial di Garut adalah Masjid di Lio Al-Djamhari, Masjid Agung di alun-alun Garut, dan Masjid Al-Syuro Cipari. Ketiganya menyimpan kisah dan fungsi yang berbeda, namun saling melengkapi dalam membangun identitas keislaman masyarakat Garut. Penelitian tentang ketiga masjid ini menjadi penting untuk memahami bagaimana masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kehidupan sosial dan budaya yang dinamis. Kajian ini bertujuan untuk menggali kontribusi masing-masing masjid dalam membentuk identitas masyarakat Garut, sekaligus mengungkap nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan fokus pada tiga masjid yang memiliki peran signifikan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru tentang peran masjid dalam konteks sosial, historis, dan religius di Kabupaten Garut.
1. Masjid Lio Al Djamhari
Masjid ini dibangun pada tahun 1880-an dan merupakan masjid tertua di Garut, tanah yang dibangun menjadi masjid merupakan tanah wakaf, karena disekitar tempat itu belum ada masjid maka dibangunlah tanah wakaf itu menjadi masjid Lio Al-Djamhari yang merupakan salah satu masjid Muhammadiyah di Garut, Pada awal pembangunannya, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan sosial dan keagamaaMasjid Lio di Garut, Jawa Barat, Didirikan oleh H Djamhari . Masjid Lio di Garut dibangun untuk mewujudkan kebutuhan masyarakat akan sarana ibadah dan sebagai tempat berkumpulnya umat Islam. Selain itu, masjid ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial, memperkuat solidaritas antarwarga, serta menjadi tempat menyebarkan nilai-nilai Islam. Pembangunan masjid ini diharapkan dapat mendukung aktivitas keagamaan dan memperkuat ukhuwah Islamiyyah dikalangan masyarakat sekitar. Masjid Lio terletak di jl. Gn. Payung, Ciwalen, Kec. Garut Kota, Kabupaten Garut, Jawa Barat.Masjid Lio Garut dianggap penting oleh masyarakat setempat karena beberapa alasanyaitu sebagai Sejarah dan Warisan Budaya:Masjid Lio memiliki nilai sejarah yang tinggi danmerupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Garut. Bangunan ini seringkali mencerminkan arsitektur dan tradisi yang telah ada selama bertahun-tahun.Tempat Ibadah: Sebagai sebuah masjid, Lio Garut berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Islam. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan, mulai dari shalat lima waktu, pengajian, hingga perayaan hari besar Islam. Pusat Komunitas: Masjid sering menjadi pusat kegiatan sosial dan komunitas. Masjid Lio mungkin menjadi tempat berkumpulnya warga untuk melakukan berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan pengembangan masyarakat. Identitas Lokal: Masjid Lio juga bisa menjadi simbol identitas lokal bagi masyarakat Garut. Keberadaan masjid dan aktivitas yang berlangsung di dalamnya memperkuat rasa kebersamaan dan identitas komunitas. Peran dalam Pendidikan: Banyak masjid, termasuk masjid Lio, yang juga menyediakan pendidikan agama bagi anak-anak dan warga sekitar, yang membantu meningkatkan pemahaman dan mengamalkan ajaran Islam. Karena faktor-faktor inilah, Masjid Lio Garut dianggap penting dan dihormati oleh masyarakat setempat di Garut. Dalam perkembangannya, majid ini mengalami beberapa renovasi, tetapi tetap mempertahankan nilai Sejarah dan kebudayaan lokal. Saat ini, masjid Lio Al-Djamhari masih digunakan sebagai tempat ibadah dan juga tempat untuk berbagai kegiatan sosial. Tokoh Yang Terlibat Dalam Perkembangan Masjid Lio Al-Djamhari
1. H. M. Djamhari: Beliau adalah tokoh utama dalam pengembangan Masjid Lio.
2. Wangsa Eri: Merupakan salah satu tokoh yang turut berperan dalam renovasi dan perluasan Masjid Lio bersama H. M. Djamhari pada tahun 1932.
3. H. M. Amir: Bersama dengan H. M. Djamhari dan Wangsa Eri, H. M. Amir jugaterlibat dalam renovasi masjid pada tahun 1932. Ia merupakan tokoh penting yang berperan dalam perkembangan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan di Garut.
Tokoh-tokoh ini, dengan dukungan mereka dalam hal dana, lahan, dan peran aktif
2.Masjid Agung
Masjid Agung Garut adalah masjid utama di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang menjadi pusat kegiatan keagamaan Islam di daerah tersebut. Masjid ini terletak di Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, tepatnya di Jalan Jenderal Ahmad Yani, sebelah barat Alun-Alun Garut. Pembangunan Masjid Agung Garut dimulai pada 15 September 1813, bersamaan dengan pembangunan sarana dan prasarana ibu kota lainnya seperti pendopo, kantor asisten residen, penjara, dan alun-alun. Namun, terdapat nisan di samping masjid yang menunjukkan tahun 1809, sehingga ada kemungkinan masjid ini dibangun sebelum tahun 1813. Awalnya, masjid ini memiliki atap berbentuk tajug tumpang tiga, yang merupakan ciri khas arsitektur masjid di Jawa pada masa itu. Pada tahun 1979, bentuk atap diubah menjadi kubah dengan plat beton. Renovasi besar dilakukan lagi pada 10 November 1994 dan selesai pada 25 Agustus 1998, yang mengubah arah kiblat dengan bantuan ahli geodesi dari ITB menggunakan GPS. Masjid Agung Garut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ikon sejarah dan pusat kegiatan keagamaan di Kabupaten Garut. Lokasinya yang strategis di pusat kota, berdekatan dengan alun-alun dan pendopo, menjadikannya simbol penting bagi masyarakat Garut. Pendiri Masjid Agung Garut tidak tercatat dengan pasti sebagai individu tertentu. Masjid ini dibangun pada masa awal pembentukan Kabupaten Limbangan (sekarang Kabupaten Garut) oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1813. Proses pembangunannya melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah setempat sebagai bagian dari pembangunan pusat kota. Masjid ini dibangun sebagai fasilitas utama untuk memenuhi kebutuhan ibadah umat Islam di sekitar ibu kota Kabupaten Garut. Selain itu, pembangunannya juga untuk mendukung penyebaran ajaran Islam di daerah tersebut dan menjadi simbol keislaman di pusat pemerintahan. Masjid Agung Garut mengalami beberapa kali renovasi. Pada tahun 1979, bentuk atapnya yang awalnya tajug tumpang tiga diubah menjadi kubah. Renovasi besar lainnya dilakukan pada tahun 1994 hingga 1998, termasuk penyesuaian arah kiblat menggunakan teknologi modern. Kini, masjid ini telah menjadi ikon sejarah, arsitektur, dan budaya Kabupaten Garut. Tokoh Yang Terlibat Dalam Perkembangan Masjid Agung Dalam pembangunan Masjid Agung Garut, beberapa tokoh penting yang berperan meskipun tidak disebutkan secara spesifik dalam catatan sejarah melibatkan:
1.Pemerintah Kolonial Belanda
Pada tahun 1813, ketika Kabupaten Limbangan (cikal bakal Kabupaten Garut) dibentuk, pemerintah kolonial Belanda menjadi inisiator pembangunan pusat pemerintahan, termasuk masjid. Residen Belanda saat itu mendukung pembentukan alun-alun, pendopo, dan masjid sebagai simbol pusat kota.
2.Bupati Limbangan Pertama:
Raden Adipati Adiwijaya, turut andil dalam pembangunan. Ia bekerja sama dengan pemerintah kolonial untuk memastikan sarana keagamaan tersedia bagi masyarakat.
3.Para Ulama dan Tokoh Masyarakat Lokal
Ulama setempat memiliki peran penting dalam memberikan arahan mengenai desain masjid sesuai nilai-nilai Islam
3.Masjid Al-Syuro Cipari
Masjid Al-Syuro, yang terletak di Kampung Cipari, Desa Sukarasa, Kecamatan Pangatikan, Garut, Jawa Barat, dibangun antara tahun 1933 dan 1936. Arsitekturnya dirancang oleh Abikusno Tjokrosuyoso, seorang aktivis Sarekat Islam dan adik dari H.O.S. Tjokroaminoto. Masjid ini memiliki gaya arsitektur unik yang menyerupai gereja, dengan bangunan memanjang dan menara setinggi 20 meter yang terletak di atas pintu masuk utama. Keunikan desain ini mencerminkan perpaduan antara gaya kolonial dan sentuhan lokal. Selama masa kolonial Belanda, Masjid Al-Syuro berfungsi sebagai basis perjuangan rakyat dan tentara, menjadi tempat latihan perang, pertahanan, dan dapur umum. Pada tahun 1952, masjid ini diserang oleh pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosuwiryo, yang sebelumnya memiliki hubungan dekat dengan Kiai Yusuf Tauziri, pendiri Pesantren Cipari. Penyerangan ini terjadi karena perbedaan pandangan antara Kiai Yusuf dan Kartosuwiryo mengenai konsep negara Islam. Kini, Masjid Al-Syuro tetap berfungsi sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat setempat, serta menjadi saksi bisu sejarah perjuangan rakyat Garut melawan penjajah dan pemberontakan. Pendiri Masjid Al Syuro Cipari adalah Abikusno Tjokrosuyoso, seorang tokoh Sarekat Islam yang juga adik dari H.O.S. Tjokroaminoto. Beliau merancang masjid ini dengan gaya arsitektur Art Deco pada tahun 1933. Masjid ini dibangun sebagai tempat ibadah utama bagi masyarakat sekitar sekaligus sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam. Selain itu, masjid ini juga dirancang untuk menunjukkan simbol perjuangan Islam pada masa kolonial Belanda. Masjid ini menjadi simbol sejarah dan semangat perjuangan. Selama masa kolonial dan pemberontakan DI/TII, masjid ini berfungsi sebagai basis pertahanan dan tempat berkumpul para santri dan pejuang untuk melawan penjajah. Hal ini membuatnya memiliki nilai spiritual dan historis yang kuat bagi masyarakat. Proses pembangunan dimulai pada tahun 1933 dan selesai pada tahun 1936. Masjid ini dibangun dengan melibatkan masyarakat setempat secara gotong royong. Arsitekturnya yang unik dikerjakan dengan perpaduan gaya tradisional dan modern, menggunakan desain dari Abikusno Tjokrosuyoso. Seiring waktu, Masjid Al Syuro tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga pusat pendidikan Islam dan kegiatan sosial. Renovasi dilakukan untuk menjaga kelestariannya tanpa mengubah bentuk asli yang bersejarah. Hingga kini, masjid ini tetap menjadi simbol semangat perjuangan dan tempat berkumpul masyarakat sekitar untuk kegiatan keagamaan.
Tokoh Yang Terlibat Dalam Perkembangan Al-Syuro Cipari, antara lain:
1. Abikusno Tjokrosuyoso Abikusno adalah seorang arsitek yang juga aktivis Sarekat Islam. Beliau adalah adik dari H.O.S. Tjokroaminoto dan merancang masjid dengan gaya Art Deco yang khas.
2. Kyai Yusuf Tauziri
Seorang tokoh agama yang juga berperan dalam perlawanan terhadap penjajah, beliau memiliki peran penting dalam memimpin umat di masjid ini.
3. Tokoh masyarakat dan santri.
Masyarakat setempat dan para santri berperan aktif dalam pembangunan masjid melalui gotong royong dan kontribusi mereka dalam membangun fasilitas ibadah ini.
KESIMPULAN
Ketiga masjid tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya, baik dari segi ibadah, sosial, maupun budaya. Masjid Lio Al Djamhari dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam, dengan sejarah panjang yang mencerminkan kearifan lokal. Masjid Agung menjadi simbol kebanggaan masyarakat Garut, berfungsi sebagai pusat dakwah dan kegiatan keagamaan berskala besar. Sementara itu, Masjid Al Syuro Cipari berperan sebagai tempat berkumpulnya komunitas muslim untuk mempererat silaturahmi dan membangun harmoni di lingkungan sekitar. Penelitian ini menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan dan pendidikan yang menjaga nilai-nilai Islam sekaligus memperkuat hubungan sosial masyarakat.
SEJARAH GARUT
PERISTIWA PENTING DALAM SEJARAH YANG MEMBENTUK KABUPATEN GARUT
-Pembubaran Kabupaten Limbangan (1811). Sejarah Kabupaten Garut berawal dari pembubaran Kabupaten Limbangan pada tahun 1811 oleh Daendels dengan alasan produksi kopi dari daerah Limbangan menurun hingga titik paling rendah nol dan bupatinya menolak perintah menanam nila (indigo). Pada tanggal 16 Pebruari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Raffles, telah mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan kembali Kabupaten Limbangan yang beribu kota di Suci. Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membubarkan Kabupaten Limbangan karena penurunan produksi kopi dan penolakan bupati untuk menanam nilai.
-Pembentukan Kembali Kabupaten Limbangan (1813). Letnan Gubernur Sir Stamford Raffles membentuk kembali Kabupaten Limbangan dengan ibu kota di Suci. Untuk sebuah Kota Kabupaten, keberadaan Suci dinilai tidak memenuhi persyaratan sebab daerah tersebut kawasannya cukup sempit.
- Pemindahan Ibu Kota ke Garut (1821), Karena Suci dianggap tidak memenuhi syarat, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk panitia untuk mencari tempat yang cocok bagi Ibu Kota Kabupaten. Pada awalnya, panitia menemukan Cimurah, sekitar 3 Km sebelah Timur Suci. Akan tetapi di tempat tersebut air bersih sulit diperoleh sehingga tidak tepat menjadi Ibu Kota.
Selanjutnya panitia mencari lokasi ke arah Barat Suci, sekitar 5 Km dan mendapatkan tempat yang cocok untuk dijadikan Ibu Kota. Selain tanahnya subur, tempat tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk serta pemandangannya indah dikelilingi gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas dan Gunung Karacak. Ibu kota dipindahkan ke Garut.
- Perubahan Nama menjadi Kabupaten Garut (1913) Saat ditemukan mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri (Marantha), seorang panitia "kakarut" atau tergores tangannya sampai berdarah. Dalam rombongan panitia, turut pula seorang Eropa yang ikut membenahi atau "ngabaladah" tempat tersebut. Begitu melihat tangan salah seorang panitia tersebut berdarah, langsung bertanya : "Mengapa berdarah?" Orang yang tergores menjawab, tangannya kakarut. Orang Eropa atau Belanda tersebut menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak fasih sehingga sebutannya menjadi "gagarut".
Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan "Ki Garut" dan telaganya dinamai "Ci Garut". (Lokasi telaga ini sekarang ditempati oleh bangunan SLTPI, SLTPII, dan SLTP IV Garut). Dengan ditemukannya Ci Garut, daerah sekitar itu dikenal dengan nama Garut.. Cetusan nama Garut tersebut direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan Adipati Adiwijaya untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan. Ibu Kota Kabupaten Limbangan pindah dari Suci ke Garut sekitar Tahun 1821.
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal No: 60 tertanggal 7 Mei 1913, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut dan beribu kota Garut pada tanggal 1 Juli 1913. Pada waktu itu, Bupati yang sedang menjabat adalah RAA Wiratanudatar (1871-1915). Kota Garut pada saat itu meliputi tiga desa, yakni Desa Kota Kulon, Desa Kota Wetan, dan Desa Margawati. Kabupaten Garut meliputi Distrik-distrik Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk.
ORANG YANG BERPERAN PENTING DALAM SEJARAH AWAL BERDIRINYA GARUT
1. R.A.A. Adiwijaya (1813–1831)
Beliau adalah Bupati pertama Kabupaten Limbangan setelah pembentukannya kembali pada tahun 1813. Di bawah kepemimpinannya, pusat pemerintahan dipindahkan dari Suci ke lokasi yang sekarang dikenal sebagai Garut, karena lokasi sebelumnya dianggap kurang strategis. Di bawah kepemimpinannya, pusat pemerintahan dipindahkan dari Suci ke lokasi baru (sekarang Garut) setelah perintah dari pemerintah kolonial Belanda.
2. R.A.A. Wiratanudatar VII (1871–1915)
Selama masa jabatannya, pada 1 Juli 1913, nama Kabupaten Limbangan resmi diubah menjadi Kabupaten Garut berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal tanggal 7 Mei 1913. Dengan demikian, beliau menjadi Bupati pertama yang memimpin wilayah dengan nama Kabupaten Garut.
3. R.A.A. Soeria Kartalegawa (1915–1929)
Menjabat sebagai Bupati Garut setelah R.A.A. Wiratanudatar VII. Pada masa pemerintahannya, tepatnya pada 14 Agustus 1925, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal, Kabupaten Garut disahkan sebagai daerah pemerintahan yang berdiri sendiri (otonom). Beliau adalah Bupati pertama yang memimpin Kabupaten Garut sebagai daerah otonom. Wewenang yang bersifat otonom berhak dijalankan Kabupaten Garut dalam beberapa hal, yakni berhubungan dengan masalah pemeliharaan jalanjalan, jembatanjembatan, kebersihan, dan poliklinik.
4. R.A.A. Muh. Musa Suria Kertalegawa (1929–1944)
Beliau menggantikan R.A.A. Soeria Kartalegawa sebagai Bupati Garut. Selama masa jabatannya, beliau melanjutkan pembangunan dan pengembangan infrastruktur di Kabupaten Garut.
RESMINYA KABUPATEN GARUT DI DIRIKAN
Kabupaten Garut resmi didirikan pada 16 Februari 1813. Pada tanggal tersebut, pusat pemerintahan Kabupaten Limbangan dipindahkan ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Garut oleh Bupati R.A.A. Adiwijaya. Pemindahan ini dilakukan karena lokasi sebelumnya, di Suci, dianggap tidak strategis. Adapun nama "Garut" baru resmi digunakan pada 1 Juli 1913 melalui perubahan nama dari Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.Sebagaimana sudah disepakati sejak awal, semua kalangan masyarakat Garut telah menerima bahwa hari jadi Garut bukan jatuh pada tanggal 17 Mei 1913 yaitu saat penggantian nama Kabupaten Limbangan menjadi Kabupaten Garut, tetapi pada saat kawasan kota Garut mulai dibuka dan dibangun sarana prasarana sebagai persiapan ibukota Kabupaten Limbangan. Oleh karena itu, mulai tahun 1963 Hari Jadi Garut diperingati setiap tanggal 15 September berdasarkan temuan Tim Pencari Fakta Sejarah yang mengacu tanggal 15 September 1813 tersebut pada tulisan yang tertera di jembatan Leuwidaun sebelum direnovasi. Namun keyakinan masyarakat terhadap dasar pengambilan hari jadi Garut pun berubah. Dalam PERDA Kabupaten Garut No.30 Tahun 2011 tentang Hari Jadi Garut, dinyatakan bahwa Hari Jadi Garut dipandang lebih tepat pada tanggal 16 Februari 1813.
PEMERINTAHAN PERTAMA KABUPATEN GARUT
Sejarah berdirinya Kabupaten Garut, yang awalnya dikenal sebagai Kabupaten Limbangan. Pada tahun 1813, pemerintah Hindia Belanda memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Limbangan dari Kampung Dukuh (kini di Kecamatan Bayongbong) ke lokasi yang lebih strategis. Keputusan ini dilatarbelakangi oleh pertimbangan geografis dan aksesibilitas untuk mempermudah administrasi serta perdagangan. Pada masa awal pemerintahan, R.A.A. Adiwijaya ditunjuk sebagai bupati pertama. Di bawah kepemimpinannya, pemerintah membangun infrastruktur awal, termasuk gedung pemerintahan dan fasilitas publik. Perubahan ini juga berkontribusi pada perkembangan sosial dan ekonomi di wilayah tersebut. Sejarah mencatat Kabupaten Garut terbentuk pada 1913 saat pindahnya pusat pemerintahan Karesidenan Limbangan ke Kawasan Suci di Garut. Sebelum 1913, Kawasan Garut masuk Karesidenan Sukapura Kolot yang berdampingan dengan Sukapura (Kabupaten Pangandaran saat ini). Dari peta sebaran distrik karesidenan di Jawa Bagian Barat era Pemerintahan Hindia Belanda 1885, Gabungan dari Karasien Limbangan dan Karesidenan Sukapura Kolot terlihat menjadi cikal bakal peta wilayah Garut saat ini.
JULUKAN "SWISS VAN JAVA" KEPADA GARUT
Garut dijuluki "Swiss van Java" karena keindahan alamnya yang mirip dengan Swiss, dengan pegunungan dan lembah yang indah. Dengan pemandangan alam yang indah seperti pegunungan, air terjun, dan pantai, Garut menarik banyak wisatawan untuk berkunjung. Belum lagi kulinernya yang terkenal. Swiss Van Java ditabalkan pada Garut merujuk pada pemandangan alamnya yang indah layaknya Swiss. Garut punya deretan pegunungan yang luas hingga hamparan persawahan. Mirip dengan Pegunungan Alpen di Eropa. Swiss Van Java merupakan julukan yang diberikan wisatawan Eropa yang berkunjung ke Garut pada abad ke-19. Mereka menganggap Garut memiliki banyak kemiripan dengan Swiss dari sisi keindahan alam. Garut juga memiliki julukan lain seperti Garoet Mooi yang memiliki arti Garut Cantik. Bahkan, sangking indahnya, Garut sempat menjadi kawasan primadona bagi warga para Eropa pada masa kolonial Belanda. Karena keindahan pegunungan alam di Garut ini, seorang sastrawan atau ulama, Ahmad Abdullah Assegaf, mengabadikan keindahan Garut dalam bukunya yang berjudul 'Fafat Garoet' tahun 1928. Seniman legendaris dunia, Charlie Chaplin juga pernah dua kali liburan ke Garut, jauh sebelum Indonesia merdeka, pada 1932 dan 1936. Aktor pantomin terkenal itu kagum dengan keindahan alam Garut. Dikelilingi oleh banyak pegunungan seperti Papandayan, Guntur, hingga Cikuray, semakin mendukung julukan Swiss Van Java untuk Garut. Oleh karena keindahannya, Garut menjadi salah satu destinasi wisata favorit yang banyak dikunjungi.
PERKEMBANGAN GARUT DARI MASA PENJAJAHAN HINGGA KEMERDEKAAN MASA PENJAJAH
1. PROKLAMASI KEMERDEKAAN (1945):
Setelah proklamasi kemerdekaan, Garut turut merasakan gejolak perjuangan melawan Belanda yang kembali ingin menguasai Indonesia melalui Agresi Militer. Garut menjadi salah satu wilayah yang mengalami konflik fisik antara pejuang kemerdekaan dan tentara Belanda.
2. PERJUANGAN RAKYAT GARUT:
Laskar Rakyat: Banyak penduduk Garut yang bergabung dengan laskar rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Salah satu tokoh penting dari Garut adalah Mochamad Toha, yang dikenal sebagai pahlawan dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Strategi Gerilya: Wilayah Garut yang bergununggunung menjadi lokasi strategis bagi pejuang kemerdekaan untuk melakukan perang gerilya.
SEJARAH MUHAMMADIYAH DAN STAIDA MUHAMMADIYAH
LATAR BELAKANG
Masjid Al Jamhari yang terletak di Kampung Lio, Garut, memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan Muhammadiyah di daerah tersebut. Pada tahun 1923, K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, sempat mengunjungi dan menginap di Kampung Lio. Kunjungan ini menjadi titik awal berdirinya Muhammadiyah Cabang Garut pada tahun yang sama. Masjid Al Jamhari kemudian menjadi pusat kegiatan Muhammadiyah, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan dakwah Islam, yang berkontribusi pada penyebaran nilai-nilai Islam di masyarakat sekitar. Sementara itu, Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Arqam (STAIDA) Muhammadiyah Garut didirikan pada 9 Juni 2000. Kampus ini merupakan inisiatif dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Garut Kota periode 1995-2000 di bawah kepemimpinan Moh. Syahid, BA (alm). Tujuan pendiriannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam serta mencetak generasi yang berpengetahuan luas dan berakhlak mulia. Keberadaan Masjid Al Jamhari dan STAIDA Muhammadiyah Garut menunjukkan peran besar Muhammadiyah dalam dakwah Islam dan pengembangan pendidikan di Garut, memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.
SEJARAH MUHAMMADIYAH DI KAMPUNG LIO GARUT
Masjid Al Jamhari yang terletak di Kampung Lio, Garut, memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan Muhammadiyah di daerah tersebut. Pada tahun 1923, K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, sempat mengunjungi dan menginap di Kampung Lio. Kunjungan ini menjadi titik awal berdirinya Muhammadiyah Cabang Garut pada tahun yang sama. Masjid Al Jamhari kemudian menjadi pusat kegiatan Muhammadiyah, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan dakwah Islam, yang berkontribusi pada penyebaran nilai-nilai Islam di masyarakat sekitar. Sementara itu, Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Arqam (STAIDA) Muhammadiyah Garut didirikan pada 9 Juni 2000. Kampus ini merupakan inisiatif dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Garut Kota periode 1995-2000 di bawah kepemimpinan Moh. Syahid, BA (alm).Tujuan pendiriannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam serta mencetak generasi yang berpengetahuan luas dan berakhlak mulia. Keberadaan Masjid Al Jamhari dan STAIDA Muhammadiyah Garut menunjukkan peran besar Muhammadiyah dalam dakwah Islam dan pengembangan pendidikan di Garut, memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. Selain masjid, pada 29 Maret 1957, sebuah gedung baru untuk Sekolah Dasar Muhammadiyah diresmikan di kompleks Jalan Lio, Garut. Sekolah ini menjadi kebanggaan bagi masyarakat Muhammadiyah di Garut dan semakin memperkuat peran Kampung Lio dalam dunia pendidikan Islam. Sekolah ini turut berkontribusi dalam mencetak generasi yang memiliki pemahaman agama yang baik dan siap berperan dalam pembangunan masyarakat.
Dengan demikian, Kampung Lio memiliki peran yang sangat sentral dalam perkembangan dan penyebaran gerakan Muhammadiyah di Garut, baik melalui sektor pendidikan maupun kegiatan keagamaan. Semua inisiatif yang dimulai dari Kampung Lio terus berkembang, memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat dan menciptakan lingkungan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam yang berkemajuan.
SEJARAH STAIDA MUHAMMADIYAH GARUT
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Arqam Muhammadiyah Garut lahir atas prakarsa Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Garut Kota periode 1995-2000. Di bawah kepemimpinan Moh. Syahid, BA (alm.), PCM Garut Kota merancang pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai bagian dari program strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam di wilayah tersebut. Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari warga Muhammadiyah dan masyarakat Garut, termasuk restu dari KH. Misykun Asy. (alm.), pimpinan Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut. Pada 21 Januari 2000, PCM Garut Kota mengadakan rapat pleno yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pengurus Pusat Pengkajian Islam dan Kemasyarakatan (PPIK) Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut. Sejarah STAIDA Muhammadiyah Garut Dalam rapat tersebut, diputuskan pembentukan Badan Pendiri Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Arqam Muhammadiyah Garut. Drs. H. Ahmad Rohendi, M.Si. dipercaya untuk memimpin badan tersebut sebagai ketua. Proses peresmian STAI Darul Arqam Muhammadiyah Garut berlangsung pada 9 Juni 2000, bertepatan dengan 6 Rabiul Awwal 1421 H. Acara peresmian ini digelar di Aula Muhammadiyah Cabang Garut Kota yang berlokasi di Jalan Gunung Payung Lio No. 23. Izin resmi untuk menyelenggarakan program pendidikan diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Islam melalui Surat Keputusan Nomor: E/231/2000, tertanggal 18 Desember 2000. Pada tahap awal, STAI Darul Arqam Muhammadiyah Garut membuka dua program studi tingkat Strata Satu
(S1), yaitu:
1. Pendidikan Agama Islam (PAI)
2. Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)
Seiring berjalannya waktu pada 6 Desember 2019, STAI Darul Arqam Muhammadiyah Garut melakukan pembaruan administrasi dengan penyesuaian nama institusi. Berdasarkan surat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Nomor: B-4368.3/Dj.I/Dt.I.III/PP.03/12/19, nama institusi secara resmi menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Arqam Muhammadiyah Garut.Saat ini, STAI Darul Arqam Muhammadiyah Garut telah berkembang pesat dan menyelenggarakan lima program studi,yaitu:
1. Pendidikan Agama Islam (PAI)
2. Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)
3. Ekonomi Syariah (ES)
4. Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)
5. Studi Agama-agama
Dengan visinya untuk mencetak generasi unggul yang berlandaskan nilai-nilai Islami, STAI Darul Arqam Muhammadiyah Garut telah memberikan kontribusi besar dalam mencerdaskan masyarakat di Kabupaten Garut. Institusi ini tidak hanya fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter Islami sesuai dengan nilai-nilai yang diusung Muhammadiyah. Melalui peran strategisnya dalam bidang pendidikan tinggi Islam, STAI Darul Arqam Muhammadiyah Garut terus berupaya mewujudkan cita-cita Muhammadiyah dalam membangun kehidupan masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Muhammadiyah memainkan peran penting dalam perkembangan pendidikan dan keagamaan di Kampung Lio. Sejak awal pendiriannya, Muhammadiyah telah memberikan dampak signifikan melalui pendirian berbagai lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, yang memberikan akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat setempat. Salah satu contoh penting adalah STAI Darul Arqam Muhammadiyah Garut, yang didirikan pada tahun 2000. Lembaga ini telah menjadi pusat pengembangan pendidikan Islam yang tidak hanya menghasilkan generasi terdidik, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. STAI Darul Arqam Muhammadiyah Garut, dengan berbagai program studi yang tersedia, berperan dalam mencerdaskan kehidupan umat dan menghasilkan kader-kader yang mampu memberikan kontribusi pada pembangunan masyarakat. Selain itu, Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah turut memainkan peran penting dalam pembentukan karakter dan akhlak Islami di kalangan generasi muda Kampung Lio. Dalam aspek keagamaan, Muhammadiyah di Kampung Lio terus mengembangkan dakwah Islam yang moderat melalui pengajian, pelatihan keagamaan, serta peringatan hari besar Islam yang melibatkan masyarakat luas. Kegiatan tersebut telah memperkuat pemahaman agama dan memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan sosial masyarakat kampung Lio. Secara keseluruhan, Muhammadiyah di Kampung Lio, melalui lembaga pendidikan dan kegiatan dakwah yang ada, telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembangunan pendidikan dan keagamaan. Dengan hadirnya lembaga pendidikan seperti STAI Darul Arqam Muhammadiyah Garut dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya, Muhammadiyah terus mewujudkan visi dan misinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat, khususnya di Kampung Lio dan sekitarnya.
MAKAM GODOG PANGERAN KIAN SANTANG
SEJARAH
Makam Godog adalah makam yang terletak di lereng gunung karacak, tepatnya di Desa Lebak Agung, kecamatan karangpawitan, Garut. Makam ini dipercaya sebagai makam Prabu Kian Santang, anak Prabu Siliwangi dari kerajaan pajajaran. Informasi mengenai keberdaan makam godog sebagai makam kian santang terdapat dalam beberapa naskah sunda lama. Diantaranya, Babad Godog, Babad Pasundan, dan wawacan Prabu kian Santang Aji. Dalam naskah-naskah tersebut diceritakan bahwa kian santang adalah putra prabu siliwangi dari kerajaan pajajaran. Setelah memeluk islam di Mekah, namanya berubah menjadi Sunan Rahmat. Karena setelah wafat dimakamkan di Godog, tokoh ini juga disebut sunan Godog.
Kini makam godog banyak didatangi penziarah. Oleh sebagian orang makam ini memang sangat dikeramatkan, karena kian santang sering disejajarkan dengan para wali yang berjasa dalam penyebaran islam di pulau jawa. Mereka yang datang bukan hanya dari wilayah Tatar sunda saja, tetapi banyak pula yang datang dari luar Jawa. Hampir setiap waktu banyak masyarakat yang ziarah, apalagi pada bulan-bulan maulud. Prabu Kian Santang atau Syekh Sunan Rohmat suci adalah salah seorang putra keturunan raja pajajaran yang bernama prabu siliwangi dari ibunya bernama Dewi Kumala Wangi.
BERZIARAH
Berziarah adalah kegitan mengunjungi tempat yang dianggap keramat atau mulia, seperti makam, untuk berkirim doa. Ziarah merupakan tradisi yang dilakukan oleh sebagian besar umat beragama dan memiliki makna moral yang penting.
TATA CARA BERZIARAH DI MAKAM KERAMAT GODOG YAITU:
1.Berpakaian Muslim/Muslimah.
2.Abdas/Wudhu.
3.Meminta izin.
4.Jika ustadz atau pemimpin rombongan tidak tahu cara berziarah maka dipimpin oleh kuncen.
5.Jika berziarah melebihi 1 minggu maka perlu memberikan jaminan KTP.
6.Untuk peziarah yang menginap, tempatnya akan dipisah antara laki-laki dan perempuan.
TRADISI
Acara ngalungsur pusaka merupakan prosesi adat masyarakat sekitar makam keramat Godog, Garut, untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Jika masyarakat umum memperingati puncak perayaan Maulid Nabi tanggal 12 Rabiul Awal (Mulud), dalam kebiasaan masyarakat di kaki Gunung Godog itu, kegiatan mundur dua hari setelahnya tanggal 14 maulud. Selain memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad, juga sekaligus memperingati wafatnya Prabu Kiansantang atau syeh sunan rahmat suci yang dimakamkan di sana. Saat malam menjadi tanggal 14, ratusan masyarakat dan para peziarah makam melakukan pawai obor dengan melantunkan selawat. Kemudian acara dilanjutkan dengan pentas seni budaya rudat (kesenian lokal) dan alunan musik rebana himgga larut malam.
KESIMPULAN
1.Makam godog merupakan makam yang dianggap keramat karena disana merupakan tempat dimakamkan nya pangeran kian santang atau sunan Rohmat Suci.
2.Pamgeran Kian Santang adalah putra dari Raja Pajajaran yaitu Prabu Siliwangi dan ibunya bernama Dewi Kumalawangi.
3.Pangeran Kian Santang atau Syeh Sunan Rohmat Suci lahir tahun 1315 Masehi di Padjajaran yang sekarang kota Bogor.
4.Adapun makam lainnya yaitu sahabatnya, makam sembah Dalem sareupeun Agung, makam Sembah Dalem sareupeun Suci, makam sembah dalem kholipah agung, makam santuwaan marjaya suci, makam sembah dalem pangerja, makam sembah dalem kuwu kandang sakti, makam sekh Dora, makam nyiman kanangherang.
5.Salah satu tradisi yang ada dimakam godog pangeran kian santang ini yaitu ngalungsur pusaka pada tanggal 14 Maulud.
6.Adapun 3 Mata airnya yaitu cikahuripan, cikawedukan dan cikajayaan.
DRAMA
Berasal dari bahasa Yunani, yaitu Draomai yang memiliki arti berbuat dan bertindak. Sedangkan kata drama sendiri memiliki arti suatu perbuatan dan tindakan. Pengetian drama secara umum yaitu suatu karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dan mempunyai maksud untuk menampilkan sebuah pertunjukan yang diperankan oleh aktor.
JENIS DRAMA BERDASARKAN PENYAJIAN KISAH
1.Tragedi, yaitu drama yang memiliki alur cerita kesedihan
2.Komedi, yaitu drama yang memiliki alur cerita tentang kelucuan para tokoh.
3.Tragekomedi, yaitu drama yang dipadukan antara drama tragedi dan komedi.
4.Opera, yaitu drama yang dilakukan dengan cara dinyanyikan sembari diiringi dengan musik.
5.Melodrama, yaitu drama yang dilakukan ketika berdialog sembari diiringi musik.
6.Farce, yaitu drama yang berupa dagelan, tetapi tidak keseluruhan adegan dalam farce sama dengan dagelan
7.Tablo, yaitu drama yang tokohnya lebih mengutamakan gerak, para tokoh tidak melakukan dialog hanya melakukan dialog hanya melakukan berbagai gerak saja.
8.Sendratasari, yaitu perpaduan antara drama dengan seni tari.
JENIS DRAMA BERDASARKAN SARAN PEMENTASANNYA
1.Drama Panggung: drama yang sepenuhnya dimainkan dipanggung.
2.Drama Radio: drama radio tidak seperti biasanya. Drama ini tidak dapat dilihat, tepai hanya dapat didengerkan oleh penikmatnya saja dengan melalui radio.
3.Drama Televisi: hampir sama dengan drama panggung, namun drama televisi tidak dapat diraba.
4.Drama Film: drama film menggunakan media layar lebar serta biasanya dipertunjukkan di bioskop.
5.Drama Wayang: drama yang diiringi dengan pagelaran wayang.
6.Drama Boneka: para tokoh drama tidak dimainkan oleh aktor manusia sungguhan, tetapi digambarkan dengan boneka yang dimainkan beberapa orang.
JENIS DRAMA BERDASARKAN ADA TIDAKNYA NASKAH
a.Drama Tradisional: yaitu drama yang tidak menggunakan naskah.
b,Drama Modern: yaitu drama yang menggunakan naskah.
UNSUR INTRISIK DRAMA, IALAH UNSUR YANG MEMBANGUN SUATU DRAMA
1.Judul merupakan nama suatu drama, atau hal apapun. judul merupakan unsur kunci dalam suatu drama atau seni ainnya (buku, novel, dan lain-lain).
2.Tema merupakan keseluruhan dari cerita yang dibuat /ide pokok/akar yang menjadi dasar atau pokok utama dari drama.
3.Plot atau Alur disebut juga sebagai jalan cerita yang disusun sedemikian rupa dari tahapan-tahaapan peristiwa sehingga membentuk rangkaian cerita.
4.Tokoh cerita/ perwatakan merupakan pemeran yang terlibat dalam cerita/konflik konflik pada sebuah drama.
5.Dialog merupakan serangkaian percakapan dalam cerita.
6.Konflik merupakan masalah, pertikaian, pertentangan yang terjadi pada suatu drama yang dialami tokoh utama dengan dibantu oleh tokoh-tokoh penunjang
7.Latar atau setting merupakan tempat terjadinya setiap peristiwa yang berlangsung dalam alur cerita. Tak hanya itu, latar mencakup peralatan, waktu, pakaian, budaya, serta yang berhubungan dengan kehidupan para tokoh dalam cerita.
8.Amanat merupakan pesan moral kepada penonton yang isampaikan secara tersirat artinya tidak tertulis dalam naskah namun dapat diambil hikmah dari alur, konflik cerita. Ini merupakan bagian amat penting dan tidak boleh dilupakan dalam sebuah drama.
9.Bahasa yang digunakan dalam sebuah drama memiliki kekhasan yang mengacu pada budaya, kehidupan sehari-hari, sosial budaya, serta pendidikan. Bahasa digunakan untuk menghidupkan cerita, agar cerita senantiasa komunikatif.
STRUKTUR TEKS DRAMA
1.Prolog, merupakan bagian awal dari sebuah drama. Prolog biasanya digunakan untuk menceritakan gambaran drama yang akan dimainkan secara umum.
2.Dialog, merupakan bagian yang paling penting dalam sebuah drama. Dialog berfungsi sebagai penghantar komunikasi antar tokoh.
3.Epilog, merupakan bagian akhir atau penutup dari sebuah drama. Epilog biasanya berisi tentang kesimpulan dan pesan yang bisa diambil dari cerita drama tersebut.
TUGAS MEMBUAT DRAMA
https://youtu.be/TYxwZ6RK7c8?si=FPjqejXybqqVd4ce
PUISI AKROSTIK
MAUDI PUTRI KUSUMA
Mentari pagi menyapa lembut di wajahmu,
Angin berbisik membawakan cerita rindu.
Untukmu, pelita yang tak pernah redup,
Dalam hatiku, namamu selalu hidup.
Irama cinta mengalun tanpa henti.
Pengharapan terukir di setiap langkah,
Untuk kebahagiaan yang takkan pernah patah.
Tanganmu yang lembut, penuh kasih,
Rindu ini selalu membawaku kembali,
Ingin dekat, mendekap cinta sejati.
Kusuma, bunga indah di taman jiwa,
Ungkapan hati ini untukmu selamanya.
Setiap harapan, doa, dan cerita,
Untukmu yang menjadi warna dalam rasa.
Menjadi cahaya di gelapnya dunia,
Aku bersyukur memilikimu di hati selamanya.
Komentar
Posting Komentar